Minggu, 19 November 2017

Headlines:
You are here: Opini Media Massa Ujung Tombak Asa Masyarakat dalam Layanan Publik

Media Massa Ujung Tombak Asa Masyarakat dalam Layanan Publik

794 readings
Surel Cetak PDF

Opini

KabarIndonesia - Bila anda mengalami pelayanan publiK yang mengecewakan, apa yang akan anda lakukan? Tentu, ada banyak alternatif, di antaranya; mengkritik secara langsung secara asertif, memprotes dengan menegangkan urat syaraf, melaporkan kepada manajemen, meninggalkan tempat kejadian perkara dengan mengomel, memutuskan untuk tidak lagi berurusan dengan jasa tersebut, … masih ada lagi; menuliskan kejadian berikut data lengkap sebagai bukti di kolom suara pembaca surat kabar nasional.

"Tulis saja di koran nasional, pasti deh dapat tanggapan," kurang lebih kalimat tersebut telah menjadi mantra sakti bagi sebagian masyarakat, terutama di kota besar dan masyarakat yang memiliki apresiasi tinggi terhadap budaya tulis. Media publik menjadi ajang pencarian keadilan yang dipercayai kekuatannya.

Ada beberapa hal yang ingin penulis bedah dalam kasus atau fenomena di atas. Suatu fenomena yang tidak lagi asing. Kita bisa dengan mudah menemukan berbagai macam pengaduan, mulai dari pelayanan mesin ATM yang tidak berfungsi baik, pelayanan parkir di pusat perbelanjaan, pelayanan rumah sakit, pelayanan kartu kredit, dan banyak lagi.

Ajang apresiasi/kesadaran masyarakat?

Hal yang menggembirakan dari fenomena tersebut adalah apresiasi masyarakat kita terhadap media cetak. Masyarakat memiliki tempat penyaluran yang bisa memuaskan, setidaknya jika dibandingkan dengan melapor pada infrastruktur hokum. Dengan menulis kepada media cetak, kasus yang diajukan gamblang tersaji bagi pihak penggugat dan tergugat. Bukti pun tidak diabaikan, mereka akan mencantumkan berbagai data pendukung seperti bukti pembayaran, tanggal kejadian, alamat kantor cabang tempat kejadian, bahkan waktu serta nama subjek yang memberikan pelayanan tidak menyenangkan, misalnya. Identitas pun secara lengkap dan resmi akan dicantumkan, beberapa ada yang tidak ditampilkan tetapi disimpan oleh redaksi.

Terkandung pula kesungguhan dan kemauan masyarakat untuk menghargai dan mengikuti proses, tidak hasil instan. Menulis dan menceritakan kejadian tidak menyenangka di Surat/ Suara Pembaca jelas tidak sama dengan bergosip atau curhat. Mereka mempertaruhkan nama baik mereka dengan mengirimkan identitas diri yang jelas. Mereka juga harus mampu menunjukkan bukti-bukti yang jelas, kalau pun tidak disebut lengkap.

Kesabaran dan apresiasi terhadap proses pun diuji. Meskipun anda begitu ingin kasus anda segera ditanggapi, atau setidaknya tampil untuk memberi peringatan pada khalayak umum, anda bukan satu-satunya yang melakukan hal tersebut. Maka tindakan ini bukan langkah gegabah melainkan satu bukti anda sebagai warga yang beradab, meski diliputi kekecewaan.

Motivasi

Mungkin ada satu yang hampir bisa dipastikan mengapa surat-surat it uterus mengalir, terlebih dengan semakin canggih teknologi informasi dan komunikasi meringkas waktu dan ruang. Kekecewaan. Kekecewaan mendorong orang berduyun-duyun mengumpulkan bukti, membuat salinan bukti, scan bukti, menulis surat, menulis email, lalu mengirimkannya beserta identitas diri mereka.

Masih ada hal lain yang bisa kita telusuri;

- memberi pelajaran pada suatu institusi baik pemerintah maupun swasta

- berbagi pengalaman pada pembaca yang berarti sesama warga masyarakat agar tidak mengalami kejadian (kekecewaan) serupa

- sebagai langkah ‘akhir’ dari proses komplain yang telah dilakukan secara langsung pada institusi

Sejauh ini, yang terselip adalah, benarkah institusi baru akan bergerak ketika namanya terpampang dalam deretan keluhan di Surat/ Suara Pembaca?

Selanjutnya; Mengapa?

Ketidakpedulian dan atau Tidak Sensitif?

Bila hipotesa di atas benar, bahwa institusi akan lebih cepat memberikan perhatian terhadap keluhan konsumen, ketika konsumen melaporkan dalam media cetak. Maka, banyaknya demonstrasi yang sering merembet pada aksi anarkis bisa mendapatkan kesamaan penjelasan.

Akan hadir deretan pertanyaan terhadap diri kita sendiri sebagai bangsa, negara, masyarakat yang masih mengaku memiliki budaya kolektif, dengan beribu jabaran indah yang menyertai.

- Apakah lebih memilih ditegur di depan umum, daripada secara internal?

- Apakah memilih menegur di depan umum, daripada secara internal?

- Apakah tidak mendatangkan nama buruk yang ke depannya akan menurunkan citra, terlebih bila hal itu terpampang di media cetak nasional?

(Budaya) Mempermalukan

Beberapa dari kita mungkin pernah mendengar beberapa jenis hukuman ada di masyarakat yang tujuannya membuat pelaku kesalahan menjadi malu. Harapannya adalah rasa malu itu akan menyadarkan pelaku untuk kemudian sadar dan tidak mengulangi kembali di lain waktu. Sebut saja; mengarak pasangan bahkan tanpa pakaian keliling desa, menyuruh orang untuk menampar pipinya sendiri di muka umum, mungkin anda bisa menambahkan lagi.

Benarkah tujuan dari hukuman itu tercapai? Benarkah kesadaran dan interospeksi tumbuh setelah hukuman dipermalukan?

Pernahkah anda mendengar curahan hati teman yang kurang lebih bernada, "Aku bersedia dimarahi oleh bos, tapi tolong tidak di depan orang-orang, aku kan malu.." Pernahkah anda melihat orangtua memarahi buah hatinya sendiri di depan umum?

Malu, itu yang pasti hadir.

Menyadari kesalahan?

Interospeksi?

Sepertinya harus terlebih dahulu direnungkan oleh yang memiliki posisi sebagai pemimpin, sebagai bos, sebagai orangtua. Apakah kita mau dipermalukan?

Suara Pembaca – Demonstrasi

Kisah yang kita baca di halaman surat kabar itu tidak hadir dengan sendirinya. Tidak muncul dengan penuh senyum, tidak pula dalam sekejap. Perusahaan memiliki resiko mendapatkan nama buruk dan malu oleh keluhan di media tersebut. Konsumen pun harus melakukan ‘protes’ yang lebih menguras tenaga.

Bandingkan jika keluhan konsumen mendapatkan penyaluran dan proses yang layak di tempat atau institusi yang dikeluhkan. Proses yang tidak berbelit, hanya menyajikan janji dan permainan lempar konsumen ke satu operator ke operator lainnya. Bukankah kedua belah pihak menyalurkan energi secara positif dan mendapatkan keuntungan ke depan?

Bila dengan berbisik orang telah menoleh, teriakan pun menjadi sumbang dan hanya membuang energi. Namun, yang masih banyak kita saksikan adalah teriakan-teriakan di jalan hingga media cetak. Sayangnya.. teriakan itu pun belum mampu membuat mereka yang di atas menoleh barang satu detik yang berarti. (ki/kim)